Quantcast

Filem tentang Kerusuhan Mei 1998

classic Classic list List threaded Threaded
2 messages Options
indonewyork indonewyork
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Filem tentang Kerusuhan Mei 1998

Filem Indonesia bercerita tentang trauma korban kerusuhan 1998

Jakarta (Reuters) - Filem Indonesia baru menekankan ke isu sensitif tentang rasisme dan perkosaan yang berhubungan tentang kaum minoritas China yang berakhir dengan jatuhnya mantan presiden Suharto 10 tahun yang lalu.a

Di level tertentu, filem "May" adalah cerita simpel tentang seorang wanita Tionghoa (fiksi) yang diperkosa sewaktu kerusuhan Mei 1998 dimana lebih dari 1000 orang terbunuh di Jakarta.

Kebanyakan mati terperangkap di gedung-gedung yang terbakar dimana massa menggerebek sepanjang jalan dan menyerang rumah-rumah dan toko-toko kaum Tionghoa.

Namun filem ini juga menceritakan tentang tragedi kemanusiaan dibalik kerusuhan yang terjadi saat di puncak krisis moneter yang melanda seluruh Asia.

"Ini adalah refleksi dari kecelakaan 1998. Kita membuat filem ini tidak hanya untuk mengingatkan orang-orang, namun karena kita ingin kejadian ini tidak terulang lagi," kata Viva Westi, sutradara filem ini, menambahkan bahwa tidak hanya kaum Tionghoa, namun semua orang merupakan korban dari kerusuhan tersebut.

10 tahun yang lalu, grup-grup aktivis mengatakan orang-orang yang kehilangan rumah dan keluarga masih menanti keadilan atas isu perkosaan yang tak pernah diurus karena diamnya keluarga korban dan tidak ingin publik tahu adanya kekerasan seksual menimpa mereka.

Ribuan Tionghoa melarikan diri dari Indonesia saat kerusuhan itu terjadi, yang membawa Indonesia ke tahun-tahun sulit secara ekonomi dan tensi yang tinggi diantara penduduk pribumi dan etnis Tionghoa.

Tidak hanya berbeda etnis, kebanyakan pribumi adalah Muslim, dan kebanyakan Tionhoa bukan, dan selalu ada pandangan dimana penduduk Indonesia melihat adanya ketimpangan ekonomi yang dipengaruhi oleh etnis Tionghoa.

Tim independen dibuat untuk menyelidiki kerusuhan yang menemukan 85 orang wanita, kebanyakan etnis Tionghoa, mengalami pelecehan seksual, namun otoritas tidak melanjutinya dan menekankan kekurangan bukti.

Jika (filem ini) tentang kemanusiaan, ini adalah bagaimana kejadian itu mempengaruhi kehidupan individu-individu yang mengalaminya. Namun, ini juga soal politik, kita membuat filem ini karena masih banya problema yang belum terpecahkan." kata Ade Kusumaningrum, publisitas filem ini.

Kita tidak dapat membuat ulang adegan kerusuhan itu, karena setiap orang memiliki interpretasinya sendiri-sendiri. Tidak ada kebenaran yang simpel... namun kami ingin menunjukkan tragedi ini dari perspektif seorang wanita.

BERSALAH

Di tengah maraknya filem horor dan remaja di Indonesia, filem buatan Westi ini sangat langka dan pandangan sensitif terhadap kerusuhan ini dari mata May, seorang wanita Tionghoa yang terpisah dari pacarnya dan ibunya di tengah kerusuhan.

May lari ke Malaysia dan memulai hidup baru sebagai penyanyi pub, namun setelah 10 tahun ia masih trauma terhadap kejadian itu yang membuat ia hamil dan dendam terhadap pacarnya, Antares. May percaya hidupnya akan berbeda jika pacarnya menyelamatkannya.

Selain tentang krisis May setelah bersatu kembali dengan Antares, filem ini juga mengkisahkan perasaan bersalah dari banyak penduduk pribumi atas nasib kaum Tionghoa.

Di filem, seorang pencuci baju, Gandang, bergumul dengan kesuksesannya di atas penderitaan ibu May, yang menjual tanahnya ke dia untuk selembar tiket untuk melarikan diri dari kerusuhan tersebut.

Karakter Gandang ini adalah analogi pemerintah Indonesia yang tidak pernah berbuat apapun selama 10 tahun, namun menikmati semua kesuksesan tanpa menjelaskan apapun tentang apa yang sebenarnya terjadi, katanya lagi.

Meskipun banyak Tionghoa yang melarikan diri, banyak yang telah kembali dan komunitas ini telah membuat perkembangan di beberapa area. Luka masih tersisah, dan kaum ini masih berusaha menemukan tempat mereka di negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini.

DI bawah pemerintahan Suharto, awalnya etnis Tionghoa merupakan target utama pembantaian dengan tuduhan komunis dan simpatisan komunis, yang berbuntut budaya dan  bahasa mereka dicekal.

Meskipun demikian, komunitas ini, yang hanya 3 persen dari populasi Indonesia, memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap ekonomi Indonesia, dan beberapa orang berada ini memiliki hubungan dekat dengan Suharto.

"Mengungkit kejadian Mei 1998 itu penting, untuk memberitahu publik bahwa kejadian itu terjadi dan para wanita adalah korbannya," kata Hesti Armi Wulan, wakil pemimpin hubungan eksternal.

"Publik harus mengerti tentang pahitnya kehidupan para korban perkosaan karena trauma itu tidak akan pernah hilang."

 

Indonesian film explores trauma of 1998 riot victims

JAKARTA (Reuters) - A new Indonesian film puts the spotlight on the sensitive issues of racism and rape involving the minority Chinese community during the bloody riots that led to the downfall of former President Suharto 10 years ago.

At one level, the movie "May" is a simple story about a fictional Chinese-Indonesian woman raped during the May 1998 riots when more than 1,000 people were killed in Jakarta.

Most who died were trapped in burning buildings, as mobs rampaged through the streets focusing attacks on Chinese houses and shops.

But the film also explores the broader human tragedy behind the riots that broke out during the height of the Asian financial crisis.

"It is a reflection of the 1998 incident. We made the movie not only to remind people, but (because) we want this incident to never happen again," said Viva Westi, the film's director, adding that not only Chinese but everyone was the victim of the riots.

Ten years on, rights groups say people who lost family and homes are still waiting for justice while the issue of rape has never been dealt with because of the silence of the victims and the reluctance of the public to acknowledge any sexual abuse.

Thousands of Chinese Indonesians fled the country during the riots, which brought to a head years of economic and social tensions between indigenous Indonesians, called pribumi, and the ethnic Chinese.

Aside from ethnic differences, most pribumi are Muslims and most Indonesian Chinese are not, and there was also resentment over what many other Indonesians saw as disproportionate economic influence by the Chinese.

An independent team set up to investigate the riots found that 85 women, mostly ethnic Chinese, were sexually assaulted, but authorities dropped the inquiry, citing lack of evidence.

"It (the movie) is about humanity. It's about how this event impacts the lives of individuals. But it's also political. We made this movie because many of the problems are still unsolved," said Ade Kusumaningrum, the film's publicist.

"We cannot re-enact the riots because every person has a different interpretation. There is no simple truth ... But we wanted to portray the main tragedy from a woman's perspective."

GUILT

In a break from the usual crop of horror and teen films in Indonesia, Westi's movie is a rare and sensitive look at the riots through the eyes of May, the Chinese-Indonesian woman, who was separated from her boyfriend and mother in the riots.

May flees to Malaysia and builds a new life as a pub singer, but 10 years on she is still traumatized by the events that left her pregnant and filled with anger toward her boyfriend, Antares, believing her fate would have been different had he rescued her.

Apart from dealing with May's crisis after reuniting with Antares, the movie also delves into the guilt felt by many indigenous Indonesians at the fate of the Chinese minority.

In the film, a laundryman, Gandang, struggles to deal with his success at the expense of May's mother, who sold her land to him for a plane ticket to escape the riots.

"The character of Gandang is the analogy of the Indonesian government. He never did anything for 10 years, but he enjoyed everything without explaining what really happened," she said.

Although many Chinese who fled during the riots have returned in recent years and the community has made progress in some areas, deep scars remain and it is still trying to find its exact place in the world's most populous Muslim nation.

Under the autocratic rule of Suharto, ethnic Chinese were initially major targets of mass killings of alleged communists and communist sympathizers, and subsequently their culture and language were severely restricted.

Even so, the community, which represents only about 3 percent of Indonesia's population, had a strong influence over big swathes of the economy, and some of the most wealthy had close links to Suharto.

The National Commission on Human Rights said the movie was an important reminder of a past many may have forgotten or are reluctant to accept.

"Raising the facts of May 1998 is necessary, to tell the public that it has indeed happened and that women were victims," said Hesti Armi Wulan, deputy chief for external relations.

"The general public must understand the bitterness of rape victims, because the trauma will never stop."

(Editing by Ed Davies and Jerry Norton)

biangkartu biangkartu
Reply | Threaded
Open this post in threaded view
|  
Report Content as Inappropriate

Re: Filem tentang Kerusuhan Mei 1998

gwa sih setuju aja dg peluncuran film ini dilayar putih, akan tetapi hendaknya kita bisa bekerja sama dgn lembaga2 LSM yg ada serta dinas per filman di indonesia agar dampaknya dr film ini bisa diterima secara positive semua fihak. sebab kita mesti ingat juga bahwa kasus ini adalah korban dr permainan politik saat itu th 1998 yg mana gelombang reformasi telah melindas regim orba ( Suharto),jd dimana mana dlm hal ini,selalu terjadi korban difihak ke 3. semuanya ini terjadi diwaktu yg krusial.

mudah2 an peluncuran film ini bs tuntas dan membawa yg bersangkutan/bersalah  kemeja hijau.  

 
Loading...